Oleh: Sany Rohendi Apriad, S.S.
(Guru Bahasa Indonesia SMAIT Thariq Bin Ziyad Boarding School)
Usia muda merupakan masa-masa yang tepat dalam menorehkan tinta emas semasa hidup manusia. Dalam masa ini, kondisi fisik dan pikiran sedang dalam keadaan optimal dan sangat prima. Dalam masa ini juga seorang pemuda cenderung berani dalam mengambil keputusan besar. Berbeda dengan usia dewasa yang cenderung terlalu berhati-hati dalam mengambil keputusan demi menghindari risiko di kemudian hari. Hingga akhirnya, keputusan besar pun pada akhirnya ditinggalkan.
Tengoklah sejarah! Seorang pemuda bernama Muhammad Al-Fatih. Ia adalah sang penakluk Konstantinopel. Ia merupakan contoh nyata betapa pemuda dapat mengubah sejarah. Di usianya yang masih sangat muda, 21 tahun, ia memimpin pasukan Ottoman menaklukkan kota yang dianggap tak terkalahkan. Kecerdasan, visi, dan semangatnya membuktikan bahwa pemuda bukan hanya generasi penerus, tetapi juga pelaku aktif dalam menentukan arah peradaban.
Bahkan, presiden pertama Indonesia, Soekarno, sampai berkata, “Beri aku 10 pemuda, maka akan kuguncang dunia.” Ucapan ini menggambarkan keyakinannya akan potensi besar yang dimiliki pemuda. Soekarno melihat pemuda sebagai kekuatan yang mampu membawa perubahan, inovasi, dan semangat revolusi. Pemuda, dalam pandangannya, adalah tulang punggung bangsa yang memiliki energi, idealisme, dan keberanian untuk menghadapi tantangan zaman.
Di Indonesia, pemuda sendiri memegang peran krusial dalam menentukan arah bangsa, terutama menyambut bonus demografi 2045. Pada tahun tersebut, Indonesia diprediksi akan memiliki populasi usia produktif yang sangat besar. Jika potensi ini dikelola dengan baik, pemuda dapat menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi, kemajuan teknologi, dan pembangunan sosial. Namun, jika tidak disiapkan dengan matang, bonus demografi justru akan berbalik menjadi petaka karena banyak pemuda yang pada akhirnya hanya menjadi beban.
Oleh karena itu, sebagai anak muda kita semua harus menempatkan diri untuk sebagai generasi yang penerus bangsa yang senantiasa menorehkan tinta emas dalam hidup kita. Sejatinya, hal tersebut pun pada akhirnya akan menorehkan tinta emas bagi bangsa ini.
Kisah Al-Fatih dan pandangan Soekarno terhadap pemuda di awal tadi merupakan satu dari ribuan kisah di dunia yang telah menginspirasi kita bahwa usia muda bukanlah halangan untuk mencapai prestasi besar. Hal itu sudah lebih dari cukup melecut kita untuk segera berbenah dari sekarang. Jadi, wahai pemuda! Jangam tunggu lama-lama. Torehkan tinta emas dalam lembar hidupmu.