Oleh: Ahmad Faisal, Lc, ME (Kabid. Keasramaan & Pembinaan)
Syarat diterimanya amal adalah ikhlas & ittibaβ. Ikhlas adalah memurnikan niat dalam amal hanya untuk mencari ridha Allah SWT dan melaksanakan aturanNya, sedangkan ittibaβ ialah mengikuti panduan Rasulullah SAW dalam beramal.Β
Dalam konteks ibadah, maka ilmu fiqih menjadi sangat penting sebagai pedoman tata cara melaksanakan ibadah agar sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Tanpa mengetahui fiqih yang benar dalam melaksanakan suatu ibadah maka pasti akan terjadi kekeliruan secara sadar maupun tidak sadar bahkan tertolak dalam agama. Nabi Muhammad SAW pernah berpesan,
Ω ΩΩ ΨΉΩ ΩΩΩ ΨΉΩΩ ΩΩΨ§ ΩΩΨ³ ΨΉΩΩΩ Ψ£Ω Ψ±ΩΨ§ ΩΩΩ Ψ±ΩΨ―ΩΩ
βBarangsiapa melakukan suatu amalan tanpa ada dasar perintahnya dari kami (agama) maka (amalan) tersebut tertolakβ (HR. Muslim).
Makna tertolak ialah tidak sah secara aturan pelaksanaan dan tidak mendapatkan pahala.
Berbagai rangkaian ibadah Ramadhan telah biasa dilakukan oleh masyarakat di sekitar kita. Namun jika dicermati dari aspek fiqih, masih ada kekeliruan-kekeliruan yang terjadi. Mungkin sebagian orang menganggapnya tidak masalah karena sudah menjadi kebiasaan. Namun tentunya dalam beribadah dan beramal haruslah menggunakan panduan yang benar dari ajaran Islam. Berikut beberapa kekeliruan yang berkaitan dengan fiqih Ramadhan.
1. Mengkhususkan mandi tertentu sebelum Ramadhan.
Di antara bentuk persiapan menyambut Ramadhan, di kalangan masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur ada tradisi yang disebut βPadusanβ. Biasanya 1-2 hari menjelang bulan puasa. Yaitu mandi bersama di mata air, sungai, telaga, dan lokasi-lokasi lain yang bisa digunakan untuk umum. Bercampur-baur lelaki dan perempuan. Sebagian ada yang menggunakan rempah-rempah alami atau herbal wewangian. Dimaksudkan untuk membersihkan diri secara jasmani maupun rohani. Sehingga saat memasuki Ramadhan dalam keadaan suci dan bersih.Β
Masyarakat Minang juga memiliki ritual βBalimauβ yaitu tradisi mandi khusus sebelum bulan puasa. Menggunakan jeruk nipis atau limau untuk membersihkan diri. Sedangkan di Sumatera Utara ada Tradisi βPangirβ atau mandi daun wewangian. Juga dilakukan bersama bercampur-baur lelaki dan perempuan.
Karena dianggap sebagai tradisi, sehingga ada yang meyakini Padusan atau mandi massal yang semacam itu lainnya, sebagai sebuah kewajiban agama yang harus dilakukan sebelum memasuki bulan suci Ramadhan. Padahal tidak ada dalil syarβi dari Al-Quran, hadits Nabi Saw, dan contoh dari para shahabat maupun salafush-sholih.Β
Memang, ditinjau dari sisi mandi untuk membersihkan diri, tentu merupakan hal yang baik. Bahkan sebagai keharusan, kalau badan kotor. Apalagi bernajis. Terlebih lagi saat ini, dengan merebaknya virus Corona, yang dapat menyebabkan penyakit yang fatal. Salah satu terapi pencegahannya adalah dengan selalu menjaga kebersihan, menggunakan air yang bersih. Tentu harus dilakukan secara personal, di tempat yang tertutup, seperti kamar mandi, sehingga dapat menjaga aurat, tidak terlihat oleh orang lain.
2. Masih melaksanakan sahur saat adzan shubuh.
Sahur merupakan perkara sunnah yang penting sebelum puasa dimulai sehingga tubuh punya cadangan energi untuk tetap beraktivitas dengan baik saat puasa. Namun beberapa orang melaksanakannya mendekati waktu shubuh sehingga kadang-kadang masih melanjutkan makan/minum sahur saat adzan shubuh berkumandang karena hidangan belum selesai disantap. Mereka menganggap bahwa hal tersebut masih dibolehkan selama adzan shubuh belum selesai dengan alasan adanya hadits yang mengisyaratkan bahwa janganlah berhenti konsumsi sahur karena terdengar adzan.
Anggapan tersebut keliru ditinjau dari 2 hal. Pertama, makna puasa ialah menahan diri dari makan, minum & semua pembatal puasa dari terbit fajar hingga matahari terbenam. Adzan shubuh merupakan tanda bahwa fajar telah terbit sehingga makan atau minum di waktu tersebut bisa membatalkan puasa. Kedua, pemahaman hadits berikut:
Ψ₯ΩΨ°ΩΨ§ Ψ³ΩΩ ΩΨΉΩ Ψ£ΩΨΩΨ―ΩΩΩΩ Ω Ψ§ΩΩΩΩΨ―ΩΨ§Ψ‘Ω ΩΩΨ§ΩΨ₯ΩΩΩΨ§Ψ‘Ω ΨΉΩΩΩΩ ΩΩΨ―ΩΩΩ ΩΩΩΨ§Ω ΩΩΨΆΩΨΉΩΩΩ ΨΩΨͺΩΩΩ ΩΩΩΩΨΆΩΩΩ ΨΩΨ§Ψ¬ΩΨͺΩΩΩ Ω ΩΩΩΩΩ
βJika salah seorang di antara kalian mendengar azan sedangkan sendok terakhir masih ada di tangannya, maka janganlah dia meletakkan sendok tersebut hingga dia menunaikan hajatnya hingga selesai.β (HR. Abu Daud)
Maka maksudnya adalah adzan Bilal di waktu tahajjud (sebelum shubuh). Hal ini dperkuat hadits:
Ψ₯ΩΩΩΩ Ψ¨ΩΩΨ§ΩΨ§ ΩΩΨ€ΩΨ°ΩΩΩΩ Ψ¨ΩΩΩΩΩΩΩ Ψ ΩΩΩΩΩΩΩΨ§ ΩΩΨ§Ψ΄ΩΨ±ΩΨ¨ΩΩΨ§ ΨΩΨͺΩΩΩ ΩΩΨ€ΩΨ°ΩΩΩΩ Ψ§Ψ¨ΩΩΩ Ψ£ΩΩ ΩΩ Ω ΩΩΩΨͺΩΩΩ Ω
βSungguh Bilal mengumandangkan adzan di malam hari. Tetaplah kalian makan dan minum sampai Ibnu Ummi Maktum mengumandangkan adzan.β (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Anggapan puasa batal karena menangis.
Mungkin kita pernah mendengar anggapan bahwa menangis itu membatalkan puasa atau kentut di air juga membatalkan puasa. Maka hal tersebut tidaklah benar, sebab untuk menentukan bahwa suatu hal merupakan pembatal puasa haruslah berdasarkan dalil. Sedangkan anggapan-anggapan di atas hanyalah perkataan yang tersebar dari mulut ke mulut masyarakat awam tanpa ada sumber dalil yang benar.Β
4. Menghabiskan banyak waktu untuk hiburan.
Momentum Ramadhan memang indah untuk berhibur dan kumpul-kumpul, namun jika tidak bijak akan menyebabkan kelalaian dan pemborosan waktu. Sebab waktu di bulan Ramadhan mengandung lebih banyak keberkahan daripada bulan-bulan lain, maka sepantasnya digunakan untuk memperbanyak ibadah yang menguatkan spiritual kita. Betapa banyak momentum doa mustajab puasa terabaikan karena ngabuburit yang berlebih atau acara bukber yang melalaikan waktu shalat atau sibuk belanja menjelang lebaran sehingga lupa mencari keutamaan Lailatul Qadar.
5. Shalih musiman.
Ketika Ramadhan tiba, beberapa orang berubah 180 hingga 360 derajat. Ada yang jarang ke masjid dan tiba-tiba rajin ke masjid, wanita yang jarang berhijab berubah penampilan layaknya ustadzah dan berbagai pemandangan keshalihan yang muncul kontras dari kebiasaan sebelumnya. Tentu hal ini bagian dari kebaikan tetapi luruskanlah niat, karena sejatinya berbagai tersebut juga perlu dilakukan pada selain bulan Ramadhan. Zakat bukan hanya saat Ramadhan namun juga ada zakat mal yang bisa dilakukan di bulan lainnya. Sebab yang kita sembah bukanlah Ramadhan tapi Tuhan Pencipta Ramadhan yang selalu ada sepanjang waktu.
Referensi: